Aku Akhirnya Berdamai, Tanpa Harus Menang Atas Masa Lalu

 

Aku Akhirnya Berdamai, Tanpa Harus Menang Atas Masa Lalu

Aku dulu mengira hidup akan terasa lega kalau aku bisa “menang”.

Menang dari rasa sakit.
Menang dari kenangan.
Menang dari semua hal yang pernah membuatku jatuh.

Tapi sekarang aku mengerti… tidak ada yang perlu dimenangkan dari masa lalu.

Karena masa lalu bukan musuh.
Ia hanya bagian dari perjalanan yang sudah selesai waktunya.

Aku pernah terlalu keras pada diriku sendiri.
Mengulang banyak hal di kepala, mencari “apa yang bisa aku lakukan berbeda”.
Seolah-olah jika aku cukup pintar, cukup kuat, atau cukup hati-hati, aku bisa menghindari semua rasa sakit itu.

Tapi hidup tidak bekerja seperti itu.

Ada hal yang harus terjadi agar aku mengerti sesuatu tentang diriku sendiri.
Ada kehilangan yang datang bukan untuk menghancurkan, tapi untuk menunjukkan batas yang harus aku pelajari.

Dan itu tidak langsung terasa indah.

Aku butuh waktu untuk berhenti menyalahkan diriku sendiri atas hal-hal yang tidak bisa aku kendalikan.
Aku butuh waktu untuk berhenti mengulang percakapan yang sudah tidak bisa diubah lagi.

Sampai akhirnya aku lelah sendiri.

Dan di kelelahan itu, ada sesuatu yang berubah pelan-pelan.

Aku mulai berhenti berperang dengan apa yang sudah lewat.
Aku tidak lagi mencoba menghapusnya.
Aku tidak lagi mencoba mengubah maknanya.

Aku hanya… menerima bahwa itu pernah terjadi.

Dan aku tetap di sini.

Masih berjalan.
Masih belajar.
Masih menjadi seseorang yang tidak harus sempurna untuk tetap hidup dengan tenang.

Aku tidak lagi mencari versi diriku yang “tidak pernah terluka”.
Aku mulai menerima versi diriku yang pernah jatuh, pernah bingung, pernah kehilangan arah… tapi tetap bertahan sampai hari ini.

Dan anehnya, di titik itu aku merasa lebih utuh.

Bukan karena semuanya sudah baik.
Tapi karena aku tidak lagi menolak bagian dari hidupku sendiri.

Aku tidak menang atas masa lalu.
Aku hanya berhenti melawannya.

Dan itu cukup untuk membuatku akhirnya berdamai.

Komentar