Aku Belajar Menerima, Bukan Karena Aku Kuat, Tapi Karena Aku Lelah Melawan

 

Aku Belajar Menerima, Bukan Karena Aku Kuat, Tapi Karena Aku Lelah Melawan

Aku pernah berpikir menerima itu sama dengan menyerah.

Seolah kalau aku berhenti memperbaiki sesuatu, berarti aku kalah.
Seolah kalau aku berhenti memperjuangkan, berarti aku tidak cukup peduli.

Jadi aku terus mencoba.

Aku mencoba memahami hal yang tidak bisa aku ubah.
Aku mencoba bertahan di tempat yang perlahan mengikis diriku sendiri.
Aku mencoba menjadi versi yang tetap “baik-baik saja”, meskipun di dalamnya aku tidak selalu merasa begitu.

Sampai akhirnya aku lelah.

Dan di dalam kelelahan itu, ada sesuatu yang berubah pelan-pelan.

Aku mulai melihat bahwa tidak semua hal harus diperjuangkan sampai habis.

Ada hal yang tidak perlu dimenangkan.
Ada hal yang tidak perlu diperbaiki.
Dan ada hal yang cukup untuk diterima apa adanya, tanpa harus terus dipaksa menjadi seperti dulu.

Menerima ternyata bukan tentang menyerah.
Tapi tentang berhenti melukai diri sendiri demi sesuatu yang tidak lagi seimbang.

Aku mulai belajar membedakan:

Mana yang masih layak aku jaga.
Dan mana yang sebenarnya sudah lama kehilangan tempatnya di hidupku.

Dan itu tidak datang dengan mudah.

Ada rasa bersalah di awal.
Ada rasa takut dianggap “tidak cukup berjuang”.
Ada rasa seolah aku sedang meninggalkan sesuatu yang penting.

Tapi perlahan aku mengerti…
aku juga penting.

Dan aku tidak harus menghilang demi mempertahankan sesuatu yang tidak lagi menjaga aku dengan cara yang sama.

Sekarang aku tidak lagi memaksa semua hal kembali seperti semula.

Aku hanya membiarkan apa yang memang sudah berubah… tetap menjadi bagian dari masa lalu, bukan beban di hari ini.

Dan untuk pertama kalinya, itu tidak terasa seperti kehilangan.

Itu terasa seperti ruang.

Ruang untuk aku bernapas lagi.
Ruang untuk aku kembali ke diriku sendiri.

Komentar