Aku Pernah Memohon Untuk Tidak Ditinggalkan, Sampai Aku Lupa Caranya Mencintai Diriku Sendiri

 

Aku Pernah Memohon Untuk Tidak Ditinggalkan, Sampai Aku Lupa Caranya Mencintai Diriku Sendiri

Ada masa di mana aku terlalu takut kehilangan seseorang, sampai aku mulai kehilangan diriku sendiri.

Aku jadi orang yang selalu mengerti.
Selalu mengalah.
Selalu mencoba memperbaiki sesuatu yang bahkan tidak selalu bisa diperbaiki.

Aku pikir itu cinta.

Tapi lama-lama aku sadar… mungkin itu bukan cinta.
Mungkin itu ketakutan untuk ditinggalkan.

Aku pernah bertahan di tempat yang membuatku kecil, hanya karena aku takut jika pergi, tidak ada lagi yang memilihku.

Dan di titik itu, aku tidak lagi mencintai dengan bebas.
Aku mencintai dengan cemas.

Aku terlalu sering memikirkan:
“Kalau aku pergi, apa aku akan digantikan?”
“Kalau aku berhenti berjuang, apa semuanya akan selesai?”
“Kalau aku bukan orang yang paling berusaha, apa aku masih cukup?”

Pertanyaan-pertanyaan itu pelan-pelan menguras diriku.

Sampai suatu hari aku sadar…
aku tidak lagi hidup dalam hubungan itu sebagai diriku sendiri.

Aku hanya tinggal sebagai seseorang yang berusaha tidak kehilangan.

Dan itu melelahkan.

Aku tidak marah pada siapa pun.
Tidak juga pada cinta itu sendiri.

Aku hanya sedih… karena aku pernah menaruh diriku di urutan paling belakang, hanya agar sesuatu tetap ada.

Tapi tidak ada yang benar-benar bisa bertahan kalau kita terus menghilangkan diri kita sendiri.

Sekarang aku mulai mengerti sesuatu yang terasa pahit tapi jujur:

Jika aku harus terus mengecilkan diriku agar tetap dicintai, maka itu bukan tempat untukku bertumbuh.

Dan meskipun melepaskan terasa seperti kalah,
aku mulai melihatnya sebagai langkah pertama untuk kembali menjadi utuh.

Aku tidak lagi ingin mencintai dengan rasa takut.

Aku ingin mencintai dengan tenang.
Dengan sadar.
Dengan diriku yang tidak hilang di dalamnya.

Komentar